Halaman

Senin, 28 Januari 2013

Batu Lawang


Batu Lawang. Terletak di Kota Cilegon  dan berada diantara Gunung Batur dan Gunung Gede merupakan tujuan gowes kami kali ini. Rute yang dilewati adalah Palm - Kelurahan Kota Bumi - Masuk Terowongan - Ketemu pertigaan belok ke kiri - Pertigaan Siliwangi - Nanjak terus sampai ketemu Desa  1 -  Desa 2 - Gajebo Biru (tempat untuk memandang Batu Lawang dan Alam Sekitar) - Gerem



Rute kali ini benar - benar berat, selepas Pos Siliwangi kami langsung disuguhi oleh tanjakan 45 derajat yang sangat panjang. Sayang sungguh disayang ketika saya memandang tanjakan pertama ini perut langsung saja berkontraksi, segera menuju rumah penduduk sekitar untuk sekedar menumpang ke WC, lagi - lagi sayang tidak dapat diraih, apes tidak dapat ditolak. Budaya masyarakat lokal yang tidak membangun WC di dalam rumah menggiring saya untuk pertama kalinya menyatu dengan alam dan "nge BOM" di pinggir kali ditemani suara jangkrik dan nyamuk yang mencolek satu per satu.


Selepas jalur tanjakan The Great Road of Batu Lawang bertemulah kami dengan Desa 1, dari Desa 1 ke Desa 2 jalur sesekali masih harus menaiki tanjakan 45 derajat, tanah merah, dan jalan bebatuan. Setibanya di Desa 2 jalur untuk menuju Batu Lawang harus dilewati sambil menggendong sepeda. Usaha & Perjuangan yang dikeluarkan untuk menuju tempat ini sungguh tidak sia - sia, dari tempat ini kami dapat memandang indahnya permadani hijau yang terhampar, Selat Sunda disebelah kanan, Teluk Bojonegara di sebelah Kiri, Kota Cilegon dan Waduk Krenceng di tengah. Disebelah kanan dari Gejebo Biru terdapat batu besar yang dikenal dengan nama Batu Lawang,  Untuk menuju ke tempat ini harus berjalan kaki sekitar 200 meter (sebaiknya membawa kunci sepeda karena sepeda harus ditinggal di Gajebo Biru). Menurut cerita masyarakat sekitar, konon Batu Lawang merupakan tempat persembunyian para pejuang Cilegon ketika dikejar oleh Kompeni, Batu Lawang (Pintu Batu) merupakan Pintu Goib untuk menuju ke Alam Lain.





Setelah puas mengagumi indahnya pemandangan Batu Lawang kami pun memutuskan untuk kembali ke Palm, rute pulang merupakan turunan terjal dan berakhir di Desa Gerem, Kecamatan Grogol, Cilegon, Banten.


More Photos :   https://picasaweb.google.com/118015454831154083739/BatuLawang

Senin, 14 Januari 2013

Tour De' Banten Lama


Tour De' Banten Lama. Gowes kota - kota tak semudah yang dibayangkan. Rute kali ini adalah Palm - Kaligandu - Tempat Pelelangan Ikan - Terate- Sawah Padi - Danau Tasikkardi - Makam Sultan Kenari (Sultan ke 4 Banten) - Menyelusuri Tepi Sungai Cidanau - Benteng Istana - Sawah Luhur (MAKAN SIANG PECAK BANDENG) - Pulau Dua - Benteng Istana - Masjid Banten Lama - PALM.

Rute yang diperkirakan hanya akan melalui aspal ternyata terbantahkan akibat cerita Om Diding yang memiliki pengalaman untuk menjelajahi Banten Lama dengan trek off road nya. Gowes sejarah kali ini didukung oleh cuaca mendung yang menemani kami sepanjang perjalanan, udara sejuk dan segar menambah semangat gowes kali ini.

Dari Danau Tasikkardi kami menuju Makam Sultan Kenari (Sultan Ke 4 Kesultanan Banten), tak jauh dari sini tepatnya dipertigaan tanah liat yang disebelah kirinya ada rumah besar kami langsung belok kekiri untuk menyelusuri trek off road melewati pinggir Sungai Cibanten menuju Benteng Istana. Tanah yang becek setelah diguyur hujan sangat mengasyikan untuk digowes, sesekali kami pun harus menundukkan kepala mengakui kebesaran Sang Pencipta.


Bertemu Benteng Istana dan Jembatan Sungai Cidanau rute selanjutnya adalah mengisi perut yang kelaparan dengan belok ke kiri menuju Rumah Makan Pecak Bandeng Sawah Luhur, hati - hati  tertipu karena RM yang asli adalah restoran ke 2 di sepanjang jalan ini (Foto lihat di Picasa).

Selepas Menikmati lezatnya Pecak Bandeng yang legendaris itu rute kami selanjutnya adalah Pantai Cagar Alam Pulau Dua (Pulau Burung). Untuk melewati tempat ini kami dihadang oleh trek off road dimana harus melewati tambak bandeng, jika tidak konsentrasi siap - siap untuk mandi air tambak. 


Di Dalam Cagar Alam Pulau Dua, kami tidak lupa untuk mensyukuri nikmat yang diberikan Tuhan dengan menunaikan Shalat Dzuhur berwudukan air laut. Setelah puas menikmati Pantai yang indah ini kami pun kembali ke jalan raya untuk kembali pulang ke rumah dimana oleh - oleh Pecak Bandeng Sawah Luhur sudah ditunggu keluarga tercinta.

More Photos : https://picasaweb.google.com/118015454831154083739/TourDeBantenLama

Rabu, 09 Januari 2013

Rumah Hutan Cidampit

Rumah Hutan Cidampit. Sunguh Banten menyajikan alam yang luar biasa indahnya untuk bergowes ria terlebih lagi masyarakatnya sangat ramah terhadap penggowes, ini merupakan nilai lebih yang sangat tidak ternilai. 

Rute kali ini adalah Palm Hills - Mancak - Paninjauan - Cilowong (lewat Paninjauan bertemu pertigaan belok ke kiri) - Rumah Hutan Cidampit - Serang - Cilegon - Palm Hills, semua rute ini kali libas tanpa adanya loading dan unloading alias di gowes dari awal hingga akhir.  

Kami sangat berterima kasih atas jasa marshal yang diberikan oleh Om Asnawi, Om Azan & Om Asep dari KHI Gowes Community. Berkat panduan mereka kami pun akhirnya dapat merasakan indahnya bergowes ria ke tempat ini. Kali ini sungguh sangat disayangkan lagi - lagi Om Riza tidak dapat ikut gowes padahal beliau sangat mengimpikan untuk bergowes ke Rumah Hutan Cidampit.










More Photos:
 https://picasaweb.google.com/118015454831154083739/RumahHutanCidampit


Rawa Danau Session 2

Rawa Danau Session 2, Kerinduan akan trek ini menggiring kami untuk kembali dan menyapa trek yang eksotis ini. Tujuan utama dari gowes kali ini adalah Jembatan Cidanau atau lebih dikenal dengan nama Jembatan Paris oleh masyarakat sekitar. Rute kali ini adalah Palm Hills - Mancak - Desa Bulakan - Desa Cikedung Rawa Danau - Desa Ciraap - Desa Cikuray - Jalan Raya Alternatif Anyer Padarincang (Belok kanan) - Cinangka Anyer - Pasar Siri - Palm Hills.


Di Perjalanan kali ini kami ditemani oleh Om Budi, goweser baru di komunitas dengan tenaga dan semangat yang luar biasa terlebih lagi setelah beliau mengupgrade sepedanya khusus untuk trek ini. Walaupun saat start kami ditemani oleh Om Riza tapi beliau hanya dapat menemani kami sampai Pasar Mancak.


Setibanya di Desa Ciraap terdapat 2 jalan untuk menuju Anyer, Jalan 1 adalah lurus terus menyelusuri tanjakan extrim dan jalan ke 2 belok kiri, jak jauh setelah gowes dari jalan ke 2 bertemulah kami dengan jembatan Cidanau (Jembatan Paris) yang eksotis itu. Sayang sungguh disayang jembatan yang sangat eksotis ini kurang terawat, padahal ini merupakan akses vital untuk menyambungkan desa Ciraap dan desa Cikuray.

Selepas menikmati indahnya Jembatan Paris kami pun menyelusuri trek tanah untuk menuju jalan raya alternatif Anyer - Padarincang. Sepanjang perjalanan ini lagi - lagi kami dimanjakan dengan indahnya alam dan keramahan penduduk sekitar, bergowes ria di Banten memang sangat nyaman.

Setibanya di jalan raya kami pun belok ke kanan untuk menuju ke Cinangka Anyer dan dilanjutkan ke Pasar Siri untuk menyantap lezatnya Mie Ayam samping Indomaret Pasar Siri. Setelah itu seperti biasa perjalanan gowes ini pun diakhiri dengan naik Angkot Ria (biaya angkot Rp 80.000) sampai ke rumah tercinta di Palm Hills Estate.

More Photos :
https://picasaweb.google.com/118015454831154083739/RawaDanauSession2



Selasa, 08 Januari 2013

Rindu Alam Puncak


Rindu Alam Puncak, Eforia bersepeda rupanya sudah mulai mempengaruhi teman - teman di kantor tempat saya bekerja. Sabtu 22 Desember 2012 merupakan tanggal pembentukan komunitas sepeda kantor dan trek yang dipilih untuk para goweser gila ini adalah Rindu Alam Puncak, dengan loading di Masjid Gadok dan menyewa angkot @ Rp 80.000 untuk menuju warung Mang Ade di Rindu Alam.

Rute yang dipilih kali ini adalah Rindu Alam (Warung Mang Ade) - Gunung Mas - Taman Safari - Tanjakan Ngehe 1 - Saung Seng - Hutan Pinus - Gadog. Untuk memasuki trek dikenakan biaya retribusi @ 10.000, aduhhh komersil banget dehhhh.

Rute 80% adalah turunan dengan grafel bebatuan kali, trex agak licin dan yang pasti lumayan dingin apalagi sepanjang perjalan kali ini diguyur dengan hujan lebat. Spek sepeda yang disarankan adalah min XC FULLSUS, karena jika menggunakan sepeda XC aduhhhhhhh ampun dah pantat pegel.

Di Gunung Mas kami mencicipi segarnya soto mie bogor, dan sebelum tanjakan ngehe 1 tepatnya di gerbang Taman Safari kami memutuskan untuk membeli perbekalan makan siang untuk kami santap di Saung Seng yaitu di warung nasi tepat sebelum belokan menuju tanjakan ngehe 1. Di tempat ini kami membeli beberapa bungkus nasi dengan ayam goreng. Yupppp mulai dari titik ini mulailah terbiasa dengan ketidak nyamanan area Puncak. Banyak sekali calo yang menawarkan untuk meloading sepeda ke mobil bak terbuka dan yang paling PARAH adalah anak kecil yang terus mengintimidasi untuk menggunakan jasa mereka menuntun sepeda sampai Saung Seng. Padahal sebelum menuju Saung Seng terdapat tanjakan Ngehe 1 yang legendaris itu, yah alih - alih ingin mencoba kemampuan diri menaklukan tanjakan Ngehe 1 konsentrasi kami untuk menggowes pun bubar karena anak - anak kecil ini terus saja mengintimidasi untuk menggunakan jasa mereka.

Sesampainya di Pos Seng, tubuh lelah campur emosi karena tidak dapat menikmati trek Tanjakan Ngehe 1. Kami pun membuka bekal nasi yang kami beli di Warung Nasi sebelum pintu gerbang Taman Safari. Dan ternyata..... AMPUN DAH SAMA PUNCAK...... Ayam yang ada di nasi ternyata ayam tiren (kondisi ayam sudah bau dan berwarna hitam) Aduhhhh karena saking laparnya terpaksa kami makan hanya dengan nasi, sambal, dan sepotong tempe goreng.

Selepas Saung Seng trek yang kami lalui adalah turunan terjal sampai ke garis finish di Masjid Gadog. Selepas mandi dan Shalat di Masjid kami pun menutup perjalanan kali ini dengan makan sate kiloan di Sentul.

More Photos :
https://picasaweb.google.com/118015454831154083739/RinduAlamPuncak